PONOROGO, beritadesa.com-Krisis air bersih akibat bencana kekeringan di Kabupaten Ponorogo telah meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo mencatat, hingga akhir September 2026, krisis air bersih telah menyebar ke tujuh titik lokasi yang menjadi sasaran distribusi bantuan.
“Untuk perkembangan bencana kekeringan di Kabupaten Ponorogo sampai dengan hari ini, sudah ada 7 titik atau 7 lokasi yang harus menjadi sasaran bantuan distribusi air bersih dari BPBD dan mitra-mitra BPBD,” ungkap Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun.
Tiga titik terbaru yang melaporkan krisis air berada di Dukuh Kupit (Desa Caluk, Kecamatan Slahung), Dukuh Gondang (Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo), serta Desa Wonodadi di Kecamatan Ngrayun yang saat ini sedang dalam proses kaji cepat atau asesmen lapangan. Empat wilayah terdampak sebelumnya meliputi Dusun Dungus (Pulung), Dusun Bungur (Bungkal), Dusun Sidowayah (Jambon), dan Dusun Kroyo (Sampung).
Masun menjelaskan bahwa volume air bersih disesuaikan dengan tingkat kepadatan warga terdampak. “Data di kami setiap minggunya kurang lebih ada 67 ribu liter air yang kita distribusikan,” tambahnya.
Sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan tahunan ini, BPBD Ponorogo mulai mengubah strategi penanganan. Pihak pemerintah daerah kini mulai mengalihkan fokus dari sekadar dropping tangki air darurat ke pembangunan jaringan pipanisasi permanen demi menjangkau lebih banyak kepala keluarga.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya kita mengupayakan beberapa titik air melalui sumur dalam, sekarang kita berupaya ke pipanisasi agar air bisa terdistribusi lebih menjangkau banyak KK,” pungkas Masun. (*)
Pewarta: Suhidi












