YOGYAKARTA, beritadesa.com-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasukkan ancaman bencana hidrometeorologi basah ke dalam model pendukung peringatan dini berbasis dampak atau Impact-Based Forecasting (IBF). BMKG memberikan perhatian khusus pada dampak cuaca seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, karena kondisi cuaca ekstrem dan curah hujan intens kerap memicu bencana-bencana tersebut.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa upaya transformasi layanan ini bertujuan meningkatkan nilai manfaat informasi cuaca bagi keselamatan masyarakat serta mengurangi risiko bencana. Dalam mewujudkan hal tersebut, tentu diperlukan kolaborasi dengan para ahli di bidangnya sehingga setiap penyempurnaan metode prakiraan mengeluarkan hasil yang presisi.
“BMKG menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi sangat penting pada penguatan IBF ini, terutama untuk memperkuat dasar ilmiah, metodologi pemodelan, serta pengembangan sistem pendukung keputusan yang aplikatif dan dapat digunakan dalam operasional layanan peringatan dini,” ungkap Faisal pada audiensi dengan Ketua Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Kamis (9/7/2026).
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa potensi ancaman banjir, banjir bandang, dan tanah longsor tidak hanya disebabkan oleh kondisi cuaca, tetapi dapat diperparah oleh kondisi geografis, seperti daerah aliran sungai, karakteristik lereng, tata guna lahan, serta tingkat kerentanan wilayah dan masyarakat. Maka dari itu, diperlukan integrasi antara informasi meteorologi, hidrologi, karakteristik wilayah, serta data kerentanan dan keterpaparan wilayah.
“BMKG berupaya menghadirkan informasi peringatan dini yang menjelaskan potensi cuaca ekstrem sekaligus kemungkinan dampak yang dapat terjadi di suatu wilayah sehingga pemerintah daerah, sektor terkait, maupun masyarakat dapat lebih mudah menerjemahkan menjadi langkah antisipasi,” tambah Andri.
Penguatan model IBF, menurut Andri, diharapkan tidak hanya lebih actionable, tetapi juga agar sistem peringatan dini dapat memberikan gambaran risiko secara lebih kontekstual, baik dari sisi potensi kejadian maupun dampak yang mungkin ditimbulkan. Ke depan, pengembangan model IBF diharapkan mampu membantu pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat dalam memahami potensi dampak cuaca ekstrem serta mengambil langkah antisipatif untuk mengurangi risiko korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan kerugian sosial ekonomi.
Di sisi lain, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM memiliki kapasitas akademik dan teknis yang relevan dalam pengembangan pemodelan hidrologi, hidrolika, kebencanaan, dan pengelolaan risiko infrastruktur. Sinergi keilmuan tersebut diharapkan dapat menavigasi sistem IBF terhadap wilayah berisiko, potensi dampak, serta rekomendasi aksi yang dapat dilakukan sebelum bencana terjadi.
Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala BMKG, Plt. Deputi Bidang Meteorologi, Plt. Direktur Meteorologi Maritim, Plh. Direktur Meteorologi Publik, dan Kepala UPT BMKG di Yogyakarta beserta para jajaran. Dari sisi UGM hadir jajaran dari Departemen Fakultas Teknik Sipil.
Melalui audiensi dengan FT UGM, diharapkan tercipta integrasi dan kolaborasi demi memperkuat sistem peringatan dini nasional yang bersifat informatif sekaligus mampu menjadi dasar pengambilan keputusan secara lebih cepat, tepat, dan berbasis risiko. Dengan demikian, pengembangan IBF diharapkan dapat semakin kuat secara ilmiah, relevan dengan kebutuhan operasional, serta mampu menjawab tantangan kebencanaan hidrometeorologi yang semakin kompleks. (*)
Editor : Eny Dewi












