Warga Tunggorono Jombang Demo PT Layo Seng Fong, Keluhkan Debu Pabrik

Warga Tunggorono Jombang Demo PT Layo Seng Fong, Keluhkan Debu Pabrik.

JOMBANG, beritadesa.com-Sejumlah warga Desa Tunggorono, Kecamatan / Kabupaten Jombang, Jawa timur, mengelar aksi unjuk rasa didepan pintu masuk pabrik PT Layo Seng Fong (PT LSF) yang berlokasi di desa setempat. Rabu (4/9/2023).

Mereka mengeluhkan aktivitas produksi pabrik yang bergerak dibidang pembuatan lantai kayu (wood flooring) ini, menghasilkan debu kayu yang menyebar kelingkungan, dan mencemari permukiman warga sekitar pabrik. Hal ini dirasakan warga sudah 3 bulan terakhir ini.

Patauan dilapangan, peserta ujukrasa tersebut berjumlah sekitar 50 orang, aksi tesebutr berlangsung pada pukul 10.45 WIB.

Untuk menyuarakan tuntutan mereka, waraga melakukan orasi secara bergantian di depan pintu masuk pabrik, dan membentangkan sejumlah poster, dan bener yang bertulisakan diantaranya, yakni : Jangan korbankan Kesehatan kami demi bisnis mu, Stop Produksi sebelum diperbaiki, dan lain-lain.

Andrik Purwanto warga RT 2, RW 2, Desa Tunggorono mengtakan, keberadaan PT LSF ini sangat dekat dengan pemukiman warga.

Sehingga debu kayu yang ditimbulkan dari aktivitas produksi lantai kayu pabri kini, berterbangan mencemari udara dan pemukiman waraga, hal ini tetjadi di malam hari hingga menjelang pagi, pada saat aktivitas produksi pabrik sedang berjalan.

“Debu dari PT LSF ini dampaknya luas terhadap lingkungan. Dan yang paling parah terjadi di RT 1, 2, dan 4 di RW 2. Setiap hari kami harus membersihkan rumah berulang kali. Dampaknya juga ke pernapasan, mulut rasanya pengar, tenggorokan serik,” kata Andrik, di lokasi unjuk rasa, Rabu (4/10/2023).

Sementara itu, ditempat yang sama Muhammad Sofwan warga Desa Tunggorono mengtakan, bahwa debu kayu dari PT LSF itu mencemari permukiman penduduk sejak Juli 2023 atau 3 bulan lalu.

Menurut Sofwan, sebelumnya warga sudah melayangkan surat ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang pada 6 September lalu agar pencemaran dari pabrik itu bisa segera dihentikan.

Namun, perbaikan cerobong yang dijanjikan PT LSF tak kunjung terealisasi. Sehingga selama 3 bulan terakhir warga masih merasakan pencemaran debu kayu dari PT LSF itu.

“Sampai hari ini masih tetap tidak ada perbaikan. Kami harus terus menikmati udara yang tidak segar. Paling tidak sehari kami 5 kali membersihkan lantai. Rumah tanpa plafon, debunya langsung masuk ke dalam rumah. Belum jemur pakaian, aktivitas anak kecil juga terganggu,” katanya.

Pada aksi demonstrasi kali ini, kata Sofwan, warga menuntut PT LSF menghentikan sementara proses produksi selama belum bisa menghentikan pencemaran debu kayu ke permukiman penduduk.

“Kami menuntut PT LSF agar berhenti berproduksi, kalau tak ada jaminan debunya tidak akan mencemari lingkungan. Kalau tetap jalan berarti mengabaikan tuntutan kami. PT LSF Juga harus memperbaiki kerusakan karena pabrik agar tidak menimbulkan debu. Jika tidak, warga siap menutup pabrik,” Pungkas Sofwan. (Why)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *