Baru 2 Bulan, Proyek Jalan Rabat Beton Sanrobone Takalar Sudah Hancur

DANA DESA : Kondisi jalan Rabat Beton di Dusun Sanrobone, yang baruseselesai dibangun sekitar dua bulan, yang sudah mulai retak, terkelupas, dan menghasilkan debu yang mengganggu warga.

Alih-alih memberi rasa nyaman bagi masyarakat, proyek ini justru menghadirkan kekecewaan. Jalan yang baru selesai dibangun sekitar 2 bulan lalu sudah mulai retak, terkelupas, dan menghasilkan debu yang mengganggu warga.

TAKALAR, beritadesa.com-Proyek pembangunan jalan Rabat Beton di Dusun Sanrobone, Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar yang dibiayai dari Dana Desa (DD) tahun 2025 menjadi kontroversi ditengah masyarakat, hingga kini menuai sorotan tajam.

Alih-alih memberi rasa nyaman bagi masyarakat, proyek ini justru menghadirkan kekecewaan warga. Pasalnya, jalan yang baru selesai dibangun sekitar dua bulan lalu sudah mulai retak, terkelupas, dan menghasilkan debu yang mengganggu warga setiap hari.

Lebih ironis lagi, sejak awal pelaksanaan, proyek ini tidak dilengkapi papan informasi anggaran. Padahal, papan informasi merupakan wujud transparansi publik yang wajib dipasang untuk memberi tahu masyarakat mengenai sumber dana, besaran anggaran, volume pekerjaan, dan pelaksana proyek.

Ketidakadaan papan informasi menimbulkan pertanyaan : seberapa besar dana yang dihabiskan dan apakah dikerjakan sesuai standar teknis ?

Warga menilai kualitas pekerjaan sangat mengecewakan. Jalan yang seharusnya bertahan bertahun-tahun justru rusak dalam hitungan minggu. Retakan dan debu yang dihasilkan membuat warga kesulitan beraktivitas. Mereka dipenuhi debu setiap kali kendaraan melintas.

Masalah ini mencerminkan lemahnya pengawasan dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab memastikan mutu pekerjaan. Pengawasan yang longgar membuka celah penyimpangan, mulai dari penggunaan material di bawah standar hingga pengerjaan yang asal jadi.

Padahal masyarakat berhak tahu bagaimana uang desa digunakan. Transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar slogan, melainkan kewajiban. Jika proyek yang dibiayai dari uang rakyat hanya bertahan tidak sampai seumut jagung, ini jelas bentuk pemborosan dan mencederai kepercayaan warga.

Jika kualitas terus diabaikan, maka yang rusak bukan hanya jalan, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desanya. (Ping Gaftar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *